Mengapa Malaysia bisa lebih baik dari Indonesia ?

6 11 2009

Pertanyaan ini muncul dibenakku jauh sebelum Malaysia mulai mencuri satu per satu budaya negara lain. Selama ini aku ke negeri jiran itu hanya karena urusan bisnis, dijamu dan dihadapkan pada orang-orang super ramah. Sehingga aku tidak begitu mendapatkan jawabannya selama itu. Yang bisa kusimpulkan hanyalah disiplin diri terhadap peraturan, pelayanan yang maksimal, serta penguasaan bahasa inggris dan mandarin adalah kuncinya. Namun dari pengalamanku pergi ke Kuala Lumpur untuk berlibur aku menemukan beberapa hal yang cukup mengejutkan.

StarHill Gallery

StarHill Gallery

Hotel tempatku menginap ada di kawasan Bukit Bintang, jadi satu dengan mall StarHill Gallery, dari situ kami menjelajahi Malaysia jalan kaki atau naik kendaraan umum seperti Monorail atau Subway, di persimpangan lampu merah, sering kujumpai orang-orang yang menyeberang jalan meskipun lampu penyeberang jalan masih merah, disiplin ? gak juga. Parahnya lagi, di sekitar stasiun kereta Dang Wangi, tidak sedikit orang-orang yang menyeberang jalan begitu saja meskipun jelas-jelas ada tulisan peringatan denda 2500 RM (lebih kurang Rp 7.500.000,-) bagi yang menyeberang jalan namun tidak menggunakan jembatan penyeberangan..!

Dang Wangi

Dang Wangi Station

Tidak lupa juga fasilitas toilet umum di Kuala Lumpur yang juga tidak bersih-bersih banget. dan FYI, menurut aku Toilet kalo gak bersih ya uda pasti jorok… gak ada toilet yang sedikit jorok, kalo gak bersih ya jorok… bayangkan ada sisa-sisa berwarna kuning kecoklat-coklatan di toilet duduk di satu mall termewah di KL (Pavilion), bayangkan juga situasi di toilet itu dipenuhi orang-orang India gemuk dengan sorbannya yang khas dan jenggot serta bau rempahnya yang terkenal… yang pasti, gw trauma ke toilet di mall, mending balik Hotel aja kalo mau hajatan…

Pavilion

Pavilion

Selain itu, tidak jarang juga saya lihat mereka yang menjaga toko atau layanan, melayani orang lain dengan kasar dan jutek, istilahnya “you mau beli ya beli, kagak ya pergi sono..!” dan hal ini juga tidak hanya terjadi kepada saya, melainkan juga kepada orang lain sesama Malaysian. mereka juga tidak segan-segan mematok harga tinggi, bukan hanya ke tourist, melainkan kepada sesama Malaysian juga, sehingga tidak jarang terlihat mereka yang nawar harga seakan si penjual ogah-ogahan dan pembeli yang juga ogah-ogahan karena harga tinggi, tapi ada chemistry mau sama maunya diantara mereka berdua. Berada di Malaysia membuat aku kangen sama pelayan-pelayan Indonesia yang menjamu tamu bagaikan raja. bayangkan aja di sebuah restoran, kalo di Indonesia “Silahkan mister, bebek panggangnya”, kalo di Malaysia “Hei! Hei!! Mister..! Roast Duck, Enak..!”

Yang kedua adalah Bahasa. Coba jalan dan bertanya dalam bahasa inggris ke penjual di mall murah seperti Sungei Wang atau Mid Valley, mereka akan bingung menjelaskannya bahkan mungkin mirip dengan orang-orang Indonesia ketika seorang Bule bertanya dalam bahasa inggris, mereka memanggil rekannya untuk bareng-bareng menjelaskan dalam bahasa inggris yang pas-pasan. Jangankan pada penjual, coba bertanya pada satpam, hasil yang sama akan anda dapatkan. Lantas bahasa Mandarinnya ? sama saja..! mereka kebanyakan bicara dalam bahasa kong hu. lebih mudah berbicara dalam Bahasa Indonesia ketimbang Bahasa Inggris di Malaysia. daripada ngulang2 ngomong “I would love some ice tea, but with less ice”, mending bilang aja langsung “teh chinese , pakai es sikit saja”.

Petaling Street

Petaling Street

Di Kuala Lumpur, orang-orang India akan memilih berbicara dalam bahasa India lalu kemudian Inggris kepada orang lain, orang-orang chinese akan memilih berbicara dalam bahasa Kong Hu, lalu mandarin, lalu inggris, orang-orang melayu akan memilih berbicara bahasa melayu, lalu inggris, namun semua ras di Malaysia bisa dan mengerti bahasa Melayu. Makanya mereka akan lebih senang apabila kita menggunakan Bahasa Indonesia ketimbang Bahasa Inggris, bayangkan saja mau pesen nasi campur aja harus ada 5 sampe 6 pedagang yang ngumpul cuman buat saling menerjemahkan ice tea menjadi “teh sejuk tidak pakai susu”.

Indonesia

The Beauty of Indonesia

Kita semua di Indonesia tentunya tau, sumber alam di Indonesia apabila dibandingkan dengan Malaysia, kita jauh lebih berlimpah dibanding Malaysia. Lalu dengan orang-orang yang seperti aku ceritakan diatas, apa donk yang bikin mereka lebih baik dalam hal standar hidup ?

Beberapa hari di Malaysia, aku menyadari satu hal, mereka memang bukan orang yang disiplin sekali, tapi mereka hanya sedikit lebih disiplin dibanding orang-orang Jakarta. disitu setiap ada jembatan penyeberangan, pasti ada eskalatornya, coba bayangkan kalo hal yang sama dilakukan di Jakarta.. apa nasibnya tu eskalator ? tidak lupa juga kutambahkan, fasilitas transportasi umum di situ pun bersih dari vandalism..!

Kawan, saat ini yang ada dalam pikiran aku adalah : “Lantas apa dengan sedikit lebih disiplin saja sudah lebih cukup ? Lalu mengapa mereka bisa lebih baik dari kita ?”





Ketika seorang karyawan berkata “cukup..!”

31 01 2009

Aku harus mengawali post ini dari sebuah cerita, tentang professional kantoran yang telah berkata “cukup” dan keluar dari perusahaan tempat dia bekerja, yang kemudian memulai usahanya sendiri berdasarkan kemampuan professionalitas yang dia miliki.. well, here we go;

Ada seorang chef yang telah bekerja selama 9 tahun di sebuah restoran hotel berbintang lima terkenal di Jakarta.. karena satu dua hal, dia memiliki perbedaan pendapat dengan management hotel, dia memutuskan untuk keluar dari tempatnya selama ini mencari sesuap berlian serta mencoba memulai usahanya sendiri dengan bekal keahlian dan idealismenya..

Dia menyewa sebuah ruko di daerah ramai, dan mendesainnya secara sederhana.. Setelah menyewa beberapa orang pekerja, dia memulai bisnis rumah makan kecil-kecilannya.. 

Lantas apakah kisahnya berakhir bahagia ? lima bulan berlalu, meskipun daerahnya ramai, restorannya sepi.. lima bulan dia tidak melihat adanya harapan.. ditambah lagi kebiasaannya bekerja di hotel bintang lima, membuatnya secara tidak sadar menggunakan konsep bintang lima yang dia sederhanakan sendiri sesuai modalnya, tetapi akhirnya malah mengakibatkan membengkaknya biaya operasional.. dia pun harus mencari jalan keluar untuk bertahan..

Seiring waktu, dia mulai mengerti apa yang dia perlukan selain kemampuannya dalam hal memasak, selain keyakinannya atas kualitas dan rasa produk yang dia ciptakan, dia mulai mengerti hal lain dalam prinsip marketing yang diperlukan oleh bisnisnya, promosi..! dia tau dan sadar kalau hanya dia yang tau bahwa masakannya enak adalah sia-sia, dia harus memberitahu orang lain bahwa masakannya enak.. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung mempromosikan rumah makannya melalui forum yang biasa dia ikuti di internet.. hasilnya ? Restoran kecilnya benar-benar kebanjiran pengunjung..!! Tetapi masalah bukannya selesai, malah bertambah banyak, namun masalah kali ini adalah masalah yang baik..

Masalah itu dimulai dari kurangnya meja dan peralatan makan, seringnya kehabisan stok makanan, banyaknya pengunjung yang tidak sabar, sampai waktu memasak yang semakin lama.. Agar dia tidak kehilangan pengunjungnya, dia pun royal memberikan free service, “demi kepuasan pelanggan” maksudnya..

Satu hari telah dia lalui dan dia berhasil bertahan dari banjir pengunjung yang gila-gilaan, ia tutup hari itu dengan bersenang-senang bersama karyawannya karena lima bulan sudah mereka duduk lesu sambil terkadang ke dapur untuk memasak..

****

Cerita ini belum selesai, karena baru saja tadi aku melihat sang chef dan karyawan-karyawannya sedang duduk-duduk saling tersenyum satu sama lain..

Kejadian hari ini membuat aku lantas berpikir akankan aku juga bisa seperti itu ? sang chef telah keluar dari pekerjaan tetapnya untuk mengadu nasibnya setelah bertahun-tahun memasak dalam gemerlapnya hotel bintang lima, memasak dengan segala fasilitas restoran berkelas, dibantu staff yang memiliki tugas dan keahliannya masing-masing yang mereka dapatkan dari sekolah, memasak dengan tidak perlu memikirkan hal lain, cukup memasak saja..

Professional telah bekerja dengan dibantu professional-professional lain sehingga tidak memperhatikan hal-hal penting lain.. misalnya auditor yang tidak mengetahui konsep marketing, marketer yang tidak mengetahui konsep logistik, atau pun akuntan yang taunya hanya pembukuan.. professional didesain untuk tidak memikirkan hal lain selain bidangnya sendiri..

Temanku, renungkan pertanyaan ini :
“Apakah aku memiliki sesuatu yang bisa membuatku bertahan hidup, apabila aku kehilangan periuk nasiku saat ini..?”





Tutorial Naik Lift

21 01 2009

1. Memeriksa Lift

Untuk menaiki sebuah lift dan belajar menaikinya, tentunya anda memerlukan sebuah lift. Cukup sebuah! Jangan dua! Sungguh! Akan menjadi sulit jika anda menaiki dua lift sekaligus. Saya pun akan kesulitan menuliskan tata caranya!

Setelah anda menemukan sebuah lift, ada baiknya anda memastikan bahwa lift tersebut bekerja dengan baik. Cara memastikannya adalah dengan menunggu, yup menunggu! Anda bisa menunggu seseorang untuk menaiki lift tersebut. Jika orang yang menaiki akhirnya menghilang ,maka bisa di pastikan lift tersebut bekerja dengan baik. Namun jika orang yang menaiki lift tetap berada di dalam lift setelah menaikinya, maka bisa jadi orang tersebut belum mengerti cara menaiki lift. Atau liftnya yang rusak. Maka biarkan orang mencobanya dahulu, agar anda tidak terlalu tolol.

Jika anda tidak menemukan seorangpun yang akan menaiki lift, ada baiknya anda mempromosikan lift tersebut supaya ada orang yang berminat menaikinya. Cara berpromosi sangat banyak, salah satunya adalah merayu orang supaya menaiki lift tersebut dengan janji akan di belikan permen rasa vanilla atau membeberkan kehebatan lift tersebut. Karang aja sebuah cerita bahwa cinta laura pernah menaiki lift tersebut bersama tukul misalnya. Paling tidak membuat orang tertarik untuk menaikinya. Jika masih saja belum berhasil maka ada baiknya anda belajar ilmu bela diri dahulu, supaya bisa mencengkeram orang lain dan menjebloskannya ke dalam lift. Jangan pernah menyerah! Thomas Alfa Edison aja berulang kali gagal kok.

Setelah pasti lift tersebut bisa berfungsi dengan baik, maka lakukan pengecekan tahap ke dua. Caranya adalah dengan memperhatikan setiap lampu di dalam dan diluar lift berfungsi dengan baik. Tidak ada yang padam apa lagi gosong. Perhatikan pula dinding- dinding lift. Pastikan tidak ada tanda- tanda kebakaran di situ. Jika lift terlihat kotor, anda sebaiknya menghubungi petugas kebersihan untuk mengajukan complain terhadap lift tersebut. Jika petugas kebersihan menolak membersihkan lift maka janganlah anda menelepon polisi! Hal ini dapat membuat pengelola gedung marah, karena sulit mencari petugas kebersihan saat ini. Maka sebaiknya yang anda lakukan adalah bersukarela menyapu dan mengepel lift yang akan anda naiki. Anggaplah hal tersebut merupakan kerja bakti di kampung halaman anda.

Setelah lift bersih, anda dapat mebanggakan diri anda kepada orang di sekitar tentang hasil kerja anda. Pasanglah spanduk jika perlu. Hubungi partai politik dan katakan bahwa anda peduli kebersihan, sapa tau mereka tertarik menjadikan anda wakil rakyat dalam pemilu 2009 besok. Jika anda telah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat jangan pernah melupakan tulisan ini.

 

2. Memasuki Lift

Setelah lift terjaga kebersihannya mulailah melangkah memasuki lift. Jangan ragu, anda akan terlihat konyol jika memasukinya dengan ragu- ragu. Setelah memasuki lift, anda dapat melihat beberapa tombol di situ. Sebaiknya kita tidak sembarangan memencet tombol, karena salah satu tombol di situ berfungsi untuk menghancurkan lift tersebut berikut isinya. maka pandangi aja tombol yang ada tulisan angka–angkanya. Angka tersebut bisa tertulis di dekat tombol atau beberapa lift yang modern menuliskan angkanya di tombol. Angka-angka tersebut merupakan lantai yang menjadi tempat pemberhentian lift. Anda dapat memilih beberapa tempat tujuan atau cukup satu saja semuanya terserah anda. Jika anda memilih beberapa tempat tujuan maka, lift akan berhenti di setiap tempat yang tombolnya anda tekan. Oh iya lupa, jika ada petugas yang menarik pungutan atas keinginan anda menaiki lift, sebaiknya jangan di turuti! Karena seringkali petugas tersebut gadungan, mereka hanya menyamar seperti petugas, untuk mendapatkan uang secara tidak halal!

Setelah anda menekan salah satu tombol, biasanya pintu lift akan tertutup. Jangan panik jika hal ini terjadi, dan jangan mencoba mendorong pintu lift. Gak bakal ada gunanya sungguh! Tetap tenang, ada baiknya jika anda memilih angka tertinggi supaya dapat menikmati enaknya naik lift. Anda mungkin akan merasakan sedikit mual.. hanya sedikit.. sedikit sekali.. okelah mungkin juga tidak sama sekali.

Pada saat lift mulai menanjak. Anda dapat menikmati pemandangan lampu lift yang berkedap kedip setiap kali lantai di lewati, tentunya pemandangan ini hanya terjadi jika anda memilih tombol dengan nilai tertinggi tadi. Pandangilah lampu penunjuk tersebut. Beberapa lift modern menyediakan lampu berupa angka untuk hal tersebut. Anda dapat menikmati tontonan angkanya. Sangat jarang anda mendapatkan camilan atau minuman di dalam lift, maka ada baiknya jika anda membawa sendiri semua hal tersebut. Anda dapat memberikan informasi lokasi lift yang memberikan camilan dan minuman gratis, melalui komentar agar saya juga dapat mencobanya.

 

3. Prosedur Keamanan di dalam Lift

Prosedur keamanan dan standart keselamatan di dalam lift, seringkali kurang di perhatikan oleh para penumpang lift. Juga pihak pengelola lift biasanya tidak memberikan bantalan pelindung jika terjadi benturan di lift nya. Anda bisa membawanya dari rumah. Jika di dalam lift anda tidak dapat menggunakan ponsel, maka jangan panik. Karena hal tersebut memang sering terjadi, yakinlah anda bisa menggunakan ponsel anda kembali setelah keluar dari lift. Beberapa lift memang memiliki kemampuan khusus secara otomatis untuk mematikan sinyal ponsel. Kemampuan tersebut sengaja di tanamkan oleh pabrik, supaya lift dapat naik dan turun dengan aman. Teknologi ini belum diadopsi oleh pesawat terbang, sehingga kita harus melakukan secara manual jika di pesawat terbang. Di lift semuanya otomatis.

 

4. Turun dari Lift

Setelah pintu lift terbuka kembali, itu artinya anda telah sampai di tempat tujuan. Yang merupakan lantai di mana tombol yang anda tekan tadi. Keluarlah dari lift secara teratur dan dengan posisi yang benar. Usahakan melangkah menggunakan kaki kiri terlebih dahulu supaya tidak terjatuh.

Jika ada orang yang berdiri di depan anda, dan tidak ada tanda-tanda hendak melangkah. Maka teriakkan saja kalimat jampi–jampi yang merupakan sebuah mantra anti di halangi. Mantra ini telah terbukti manjur untuk di gunakan di seluruh Indonesia. Teriakkan saja mantranya ‘PERMISI’ cukup dah gitu saja.Dan jika dalam keadaan darurat orang tersebut tetap tidak beranjak dari tempatnya anda bisa mendorongnya, untuk pertama kali baiknya menggunakan dorongan yang keras. Namun jika doroangan yang keras membuat orang tersebut marah atau naik pitam, cobalah menyuruhnya untuk mengulangi dan lakukan dengan pelan.

 

5. Selesai

Setelah keluar dari lift, anda boleh berbangga diri dengan keberhasilan anda! Rayakan hal tersebut dengan berpesta 7 hari 7 malam memakan coklat 7 rupa dan mandi 7 hari 8 bulan. Anda berhak atas semua itu. Jika anda berniat untuk turun ke lantai bawah menggunakan lift lagi maka lakukanlah prosedur awal.

Jangan lupa untuk selalu mencuci kaki dan wajah sebelum menggunakan lift. Dan sebaiknya anda tidak merokok di dalam lift. Gunakan pakaian yang sopan dan makan 3 kali sehari secara teratur.

Selamat bersenang-senang..!





3 Pertanyaan Renungan Akhir Tahun 2008

31 12 2008

Melalui postingan kali ini aku ingin mencoba mengompress waktu, menjadikan masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang menjadi satu.. aku ingin mengajak kita semua melihat kembali ke masa lalu sekaligus pergi ke masa depan..

Coba jawab tiga pertanyaan berikut ini dalam hati;

“Apakah dari semua yang telah aku pelajari, katakan, dan perbuat di tahun 2008, aku telah menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam misinya cinta kasihnya terhadap orang-orang disekitar kita ?”

“Peristiwa-peristiwa besar apakah yang ingin aku perbuat dalam lima tahun mendatang dengan pengaruhnya terhadap perjalanan hidupku, terhadap aku dan orang-orang disekitarku baik yang membenciku maupun mencintaiku, terhadap peranku di dunia ini ? dan bagaimana hal itu bisa terjadi ?”

“Apakah jalan yang telah aku tapaki di 2008 searah dengan apa yang akan terjadi padaku di masa yang akan datang ? apakah semua itu membuatku semakin dekat dengan peristiwa-peristiwa besar yang akan menjadikan aku manusia seutuhnya ?”

Akhir kata aku mengucapkan kepada kita semua “Proficiat !!”, karena segala suka dan duka yang telah kita jalani di 2008 telah membentuk kita menjadi seperti sekarang ini..! Bangga lah akan hal itu..

2008 sudah berlalu kawan, waktu kita dibumi semakin sedikit..





The Secret Behind the Multilevel Marketing

28 12 2008

Bagi Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika mendengar kata “MLM”…?

Baca dan pikirkan sekali lagi, “MLM”… Jangan salah yach, “M” nya ada dua…

Make money on your spare time ?

Bagi aku hanya 2 kata : “Salesman Gratis” kenapa ?

Banyak orang salah persepsi dengan MLM dan langsung mendengus ketika mendengar kata MLM.. Oleh karena itu, pertama-tama mari aku coba jelaskan sistem komisi yang diterima sales pada perusahaan konvensional..

Pada perusahaan non-MLM, sales biasanya diberi gaji kecil, kalau perusahaan yang agak bonafid, minimal UMR.. dan biasanya juga sales diberikan target penjualan oleh perusahaan yang apabila tidak tercapai, maka kata-kata motivasi pembakar semangat (baca: cacian dan makian) akan siap diberikan kepada sales.. Dari setiap produk yang dijual, sekian persennya adalah yang disebut Margin atau laba dari produk, margin itu dihitung dari selisih harga jual dengan modal modal yang berkenaan langsung dengan pengadaan produk, misal labor cost, transport dan asuransi, packaging, dan lain-lain.. kemudian dari margintotal omset perusahaan itu, biasanya ada dibagi lagi sekian persen untuk promosi, sekian persen lagi untuk komisi langsung sales.. perusahaan besar bisa memakai sampai 15% total omset untuk biaya promosi mereka, namun untuk sales biasanya dimulai dari nol koma nol sekian persen sampai satu atau dua persen untuk sales yang menjual, dan kalau margin cukup tebal, komisi bisa lebih besar lagi..

Pada sistem komisi MLM yang aku dengar melalui presentasi MLM yang pernah aku ikuti (atau lebih tepatnya dijebak) komisi tidak jauh berbeda persenannya, hanya saja kita diiming-imingi persenan tambahan dengan mencari downline, dan tidak ada gaji pokoknya… itulah yang disebut multilevel marketing.. persentase total margin yang biasa dipakai perusahaan untuk promosi dipotong dan dimasukan untuk komisi sales ke upline nya sampai tingkat tertentu (dalam setiap MLM pasti ada batas komisi yang akan kamu dapatkan hanya dari downline sampai tingkat tertentu).. sebagai contoh aku coba buatkan suatu skema komisi yang simple;

Suatu produk seharga 100,000.- rupiah, dijual oleh seorang agen MLM sebutlah si A, dari seratus ribu rupiah itu 10% dipakai untuk sistem komisi, si A mendapatkan 2% karena dia yang menjualnya, upline langsung si A sebutlah si B mendapat 1%, upline si B dan uplinenya upline lagi katakanlah si C, D, E, F, G, H dan si I masing-masing mendapat 1%, dalam contoh kasus ini komisi yang didapat si I hanya sampai tingkat ke 9 (termasuk dia), artinya si I tidak akan mendapatkan komisi apapun apabila downline si A menjual produknya…

Oleh karena itu, apabila si I memiliki 5 orang downline,  dan masing-masing downline itu punya 5 orang lagi, dan demikian seterusnya sampai ke level A, maka apabila setiap downline dan dia menjual 1 barang seharga 100,000.- rupiah perbulan, total “Potensi” komisi yang bisa didapatkan si I adalah : (Jreng jreng jreng) Rp. 488,282,000.00 perbulan !! darimana uang sebanyak 480an Juta itu ??

Ingat..! yang dikeluarkan perusahaan dari total omset downline si I kepada si I hanya 1%..! dan dari total omset yang sebesar Rp 48,828,100,000,00 (48an MILYAR) yang didapat dari contoh kasus ini, hanya 10% yang diberikan kepada semua orang yang terlibat dalam skema.. jadi apabila omset itu tidak tercapai, maka tidak ada komisi super Wow itu.. mudah bukan ?

Sistem komisi yang tidak jauh berbeda, hanya saja sistem MLM mengharapkan dapat tercipta Word of mouth atas produk dari agent-agent ke customer, namun kebanyakan agent justru berkonsentrasi pada “mendapatkan downline” dan merekalah yang pada akhirnya akan kecewa.. baca lagi contoh kasusnya, kata kuncinya adalah “apabila setiap downline menjual 1 barang”. oleh karena itu apabila tidak ada penjualan, TIDAK ADA KOMISI..! tidak peduli meskipun downline kamu ada 100,000 orang, kalau dari 100,000 itu tidak satu pun menjual produk, tidak – ada – komisi.. 100,000 Salesman Gratis ? ya..!

Kita tidak bisa juga serta-merta menyalahkan para agent, karena dari sistem itu pendapatan yang dijanjikan dari total omset yang didapatkan downline sangatlah menggiurkan ketimbang menjual produknya sendiri… beberapa sistem MLM lantas mencoba menerapkan komisi pada setiap agent yang mendapatkan downline, namun hal ini membuat MLM menjadi tidak sehat lagi (Pyramid scheme : sistem seperti MLM dengan hanya membagi-bagi uang tanpa produk atau jasa yang dijual), sehingga beberapa MLM menutupinya dengan memberi produk bernama “starter pack” yang harus dibeli agent baru, sehingga tetap ada penjualan dalam sistem MLM itu..

aku bisa mengerti mengapa kebanyakan orang itu lantas bete ketika mendengar kata MLM, pada presentasi itu setiap orang dijanjikan surga, padahal memang sih sebenarnya apabila kita melakukan dan berada pada kondisi yang sama seperti yang dia katakan, semua itu bisa kita dapatkan.. hanya saja perlu aku tekankan sekali lagi “Apabila kita memang melakukannya seperti itu”.. namun pada kenyataannya tidak semudah itu bukan..? oleh karenanya dari omset yang dipakai untuk komisi, sistem MLM biasanya menambahkan lagi budget untuk motivasi si agent, persentase itu tidak dalam bentuk uang tentunya, melainkan (misalnya) dengan jalan-jalan ke Hongkong, dan target “jangka pendek” ini yang justru biasanya lebih mudah tercapai.. Celakanya hal ini lantas membuat Agent serta merta membuang komisi mereka dengan memberikan harga agent ke konsumen demi mencapai target sales untuk bonus, akibatnya fatal, selain komisi tidak ada, harga produk juga menjadi hancur dipasar..

Lalu apakah sistem seperti ini bisa hancur suatu saat nanti ?

Secara teori, Tidak, memang beberapa agent yang fokus pada downline akan melihat seakan-akan bisa saja berhenti apabila seluruh penduduk bumi telah menjadi agent sistem MLM yang sama sehingga tidak lagi bisa mendapatkan downline, tetapi inti dari MLM ini sebenarnya adalah mencari downline DAN menjual produk..!

Ingat, manusia diciptakan berbeda-beda, masing-masing orang memiliki perannya masing-masing.. ada yang berperan sebagai pemimpin, ada yang berperan sebagai pembangun, ada yang berperan sebagai pendidik, ada juga yang berperan sebagai orang brengsek, dan lain-lain.. tidak semua orang bisa menjadi salesman..! sehingga kemungkinan setiap insan manusia di bumi menjadi agent suatu sistem MLM tidaklah mungkin teradi…

Lalu apa yang bisa membuat MLM itu hancur ?

Sistem MLM bisa hancur apabila produk yang dijual itu-itu saja dan para agent sulit mendapatkan re-order atas produk-produk MLM sehingga penjualan sulit terjadi.. dan hal ini yang kebanyakan terjadi di Indonesia sehingga membuat MLM seakan-akan Booming di awal dan “hidup segan mati tak mau” belakangan.. maka hati-hati, perhatikan apakah produk MLM itu bisa kamu jual atau tidak sebelum memutuskan untuk bergabung..

Sistem MLM yang baik bisa kita temui pada produk-produk keuangan, seperti yang marak juga di Indonesia : Insurance.. karena sales terjadi setiap periode preminya.. oleh karena itu apabila kamu berjiwa sales sejati dan ingin mencoba MLM, aku sarankan jangan coba yang neko-neko, coba aja ke Insurance Company yang menawarkan sistem MLM kepada anda, atau hubungi aku.. hihihi…





Pengalaman di Malaysia

25 12 2008

Sebelumnya aku beritahu dulu, aku tidak punya paspor saat tiba-tiba aku diminta untuk ikut ke Malaysia minggu depannya dalam rangka event Asia-Pacifik Meeting.. 6 hari sebelum aku berangkat ke Malaysia, aku membuat pasporku, dan taukah kamu, sore harinya pasporku kelar, hohoho.. Sebenarnya kalau petugas-petugas laknat bin sialan itu serius, Paspor bisa kelar dalam 1 hari..

Kesan pertama yang aku dapatkan ketika tiba di KLIA Malaysia adalah “Kok gini yach ?” karena suasananya tidak jauh berbeda dengan Indonesia, ya bisa jadi karena aku naek Air Asia yang memiliki terminal(ekonomis)nya sendiri.. Agak kecewa, tapi setelah duduk di bis, aku bertemu dengan beberapa cewe cantik Malaysia dengan celananya yang seksi duduk didepanku, hahaha… lumayan, di indo susah liat ginian di dalem angkot… sementara itu kesan “Kok gini yach ?” tetap berlanjut sampai nanti aku bertemu dengan kolega-kolega dari Malaysia di sore hari..

Sesampainya di stasiun, kami sempat melihat-lihat di dalam stasiun, ada seorang staff UNICEF yang menyapa aku dengan “Welcome home” hahaha..disini pula nantinya ketika akan kembali ke Indonesia, aku membeli beberapa coklat untuk oleh-oleh… dan juga ternyata disini pun sales kartu kredit yang berkeliaran dengan liar, hanya saja disini ditambah dengan sales nomor selular… kami pun keluar setelah sadar bahwa monorail tidak dinaiki dari stasiun kereta, kami pun berjalan keluar menuju monorail.. aku menaiki tangganya setapak demi setapak menuju tempat pemberhentian monorail dengan hati gembira dan dengan beberapa cewe cantik rok pendek didepanku… oh bahagia rasanya jadi laki-laki di Malaysia… ehm ehm… prosedur naek monorail ini mirip naek TransJakarta, sempat terpikir olehku, seharusnya para pejabat laknat ibukota Jakarta bisa membuat yang mirip ini, dengan tangga tentunya.. kalau saja mereka serius dan tidak korupsi..

ps: selagi di monorail, aku melihat nama mall yang tidak asing di telinga… ternyata disono ada Mega Mall juga.. “Kok gini yach ?”

Kami tiba di Hotel Westin, setelah sebelumnya berjalan kaki dari stasiun monorail ke hotel, hal yang sulit dilakukan di Jakarta mengingat trotoar di Jakarta agak gak jelas fungsi dan bentuknya sedangkan trotoar di Malaysia sungguh rapih, bersih, dan lebar.. yaaa, mirip trotoar di daerah Sudirman sono sih, hanya saja lebih bersih tanpa asap hitam kendaraan.. sehabis check-in, meletakkan barang-barang di kamar, serta berusaha bangun dari ranjang “Heavenly Bed” (sekali tidur susah bangun)… kami pergi ke mall sebelah hotel, mallnya gak berbeda dengan mall elite di Jakarta.. 

Setelah dari Mall elit itu, kami ke Mall lain lagi yang menjual barang-barang elektronik, seperti Mangga Dua nya Malaysia deh.. suasananya juga mirip MangDu.. dan, begitu masuk, ternyata lagi ada pameran SPG, dan wuiiih…. SPGnya mantab-mantab, rok pendek, baju ketat, cantik, muda, dan selalu senyum..!! Selain itu juga ada beberapa laptop keren yang menjaga SPGnya… beberapa SPG lalu menghampiriku sementara rekan-rekanku melihat-lihat laptop.. aku berkenalan dengan satu SPG yang tadinya menawariku internet langganan,
Percakapan positif antara dua budaya yang hampir mirip itu diawali dengan aku berkata, “I’m not Malaysian, I’m just a tourist, you better find someone else to sell your product, because I can not buy it..”
“Oh, where are you come from ?” 
“Indonesia” 
“Oooo.. the internet price there is so cheap right ?” 
“(Cheap palalo peang) Oh, kind of, hehe..” 
“i’m Natalie”
“(Asiiik, kayaknya bakal panjang) I’m Hengky, nice to know you”
Setelah itu terjadilah pertukaran budaya antara Indonesia dan Malaysia disitu… sebuah hal yang sangat sulit terjadi di Jakarta bukan ? seorang SPG ngajak kenalan ?

Sehabis dari mall itu, kami makan siang ke salah satu rumah makan chinese karena pemilik rumah makan itu menawarkan makanannya dengan bahasa chinese… untung saja aku bisa sedikit mengerti apa yang dia katakan, tapi sayang nya dia tidak mengerti apa yang aku katakan, huahuahua… dia pergi dengan senyum dan digantikan pelayannya yang berbicara dengan bahasa inggris campur melayu… aku memesan nasi campur dan Teh Tarek, hahaha.. aku selalu berangan-angan ingin mencoba teh tarik asli dari Malaysia sedari di Bandara Soekarno-Hatta… dan mimpi itu hancur secara ternyata rasanya sama aja…

Setelah kenyang makan siang, kami menuju mall di Twin Tower… dilihat dari bawah kok rasanya gak tinggi-tinggi banget, padahal dia sempet jadi gedung tertinggi di dunia, dalam hati aku berpikir mungkin aku harus gelayutan di ujung sono baru kerasa tingginya… mall yang ini mirip juga dengan mall di Indonesia… andai saja semua tidak berbicara dalam bahasa inggris, mungkin aku akan mencari Gramedia disitu…

Setelah berpetualang dari mall ke mall, serta puas foto-foto, kami kembali ke hotel dan setelah mandi kami berkumpul di lobby hotel bersama semua tamu peserta Asia-Pacifik Meeting, kami berjalan kaki menuju sebuah restoran Jepang all-you-can-eat, mereka menyajikan beragam masakan Jepang komplit..! beragam jenis sushi dan sashimi, Ramen, ikan bakar ala jepang, sup dan tempura, bahkan Häagen-Dazs dan Red wine boleh di ambil seenak udel, All Fresh..!! ditambah juga ada beberapa cewe centik yang makan juga di restoran itu memakai baju super sexy..! aku kenyang, puas, dan bahagia… kalau itu ada di Indonesia rasanya bisa sampai 600 ribu per orang kali, disitu hanya sekitar 300 ribu (Rupiah) per orang.. kalau ada di Indonesia, aku pasti pergi dua bulan sekali… bukan karena cewe2nya, melainkan karena makanannya… hehehe… (gw pasti pergi sama cewe gw, gitu loh…!)

Aku menyempatkan diri jalan-jalan sendirian di mall di seberang hotel, mall yang satu ini mirip sekali desainnya dengan Grand Indonesia, beberapa kali aku sempat bingung karena radar navigasiku otomatis menggunakan peta Grand Indonesia di mall itu… setelah melihat harga-harga di mall itu yang kurang Indonesiawi, akupun kembali ke hotel dan bersetubuh lagi dengan “Heavenly Bed”, Gila tu ranjang bener-bener empuk..!! enak banget.. ibaratnya cewe itu Leah Dizon-nya kasur.. sayangnya mas kawinnya mahal, kalo gak sudah aku nikahi dan bawa pulang tu kasur…

Pengalaman pertama di Kuala Lumpur, selain kota dan mall-mall yang mirip Indonesia, kota yang bersih, makanannya enak, orang-orangnya ramah, serta banyak cewe-cewe cantik yang lebih berani mengekspresikan diri…

Setelah itu, hari-hari yang kulalui di Malaysia penuh dengan meeting, nanti aku ceritakan pengalaman itu berharga itu di post yang lain…





Opname di Rumah Sakit

17 12 2008

Setelah berhubungan dengan beberapa rumah sakit, dan sharing dari orang-orang tentang rumah sakit, serta hasil ngobrol dengan dokter pribadiku, aku mengetahui beberapa hal… bagi kamu yang pernah diopname di rumah sakit, mungkin akan menemukan bahwa apa yang aku katakan pernah terjadi pada kamu..

Seperti hal nya ketika kita katakan UNICEF, WHO, WTF (I mean WWF) atau lembaga-lembaga yang menyatakan diri non-profit.. mereka tetaplah sebuah badan bisnis yang mencari profit, hanya saja visi dan misi mereka yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan profit.. Apalagi Rumah Sakit yang jelas-jelas tidak mengatakan dirinya non-profit company, Rumah Sakit juga jelas-jelas mencari keuntungan..

Ketika ke dokter di Rumah Sakit, biasanya dokter akan meminta tes darah, dan terkadang kalau si pasien terlihat kaya, maka dokter akan meminta tes darah LENGKAP, bisa sampai satu jutaan rupiah biaya yang harus dikeluarkan untuk test lab, dan ketika orang yang dilihat agak-agak kurang mampu pun test darah bisa mencapai empat sampai lima ratus ribu rupiah.. Namun berbeda ketika kita ke dokter di apotik atau dokter yang praktek sendiri dirumah, biasanya mereka meminta tes darah yang seperlunya saja.. dan biasanya hanya empat atau lima puluh ribu rupiah untuk test lab di suatu lab yang bukan di RS.. jauh kan ?

Lalu sanggahan biasanya mengatakan, test lengkap itu lebih baik karena bisa lebih tepat.. Biasanya, seorang dokter sebelum meminta test darah, akan membuat diagnosa sementara, kemudian test darah dilakukan hanya untuk mensupport hasil diagnosanya, sebagai analoginya aku berikan contoh, ketika dokter didatangi pasien dan menemukan seorang wanita muda yang baru bersuami mual-mual setiap paginya, ditambah lagi sudah mundur 2 minggu dari jadwalnya menstruasi dia tidak mendapatkan menstruasi, dugaan sementara si dokter adalah si wanita hamil, lalu dokter sebenarnya cukup meminta test urine untuk kemungkinan hamil, dia tidak perlu meminta urinenya di test lengkap..! apakah ada kemungkinan kencing manis atau penyakit ginjal yang menyebabkan si wanita muda itu mual-mual tiap paginya, atau bahkan memeriksakan cairan rahim untuk kemungkinan kanker, USG, CT Scan, dll, dst.. test darah lengkap memang memungkinkan terlihatnya kemungkinan penyakit lain, namun itu harus melalui persetujuan pasien dengan penjelasan sejelas-jelasnya tentang kemungkinan-kemungkinan yang ada..

Kemudian untuk pasien rawat inap, seharusnya sebelum rawat inap dokter memberikan alternatif lain selain rawat inap, mungkin rawat jalan dengan cek kesehatan rutin, untuk penyakit yang perlu perhatian dan alat khusus memang biasanya agak dipaksakan untuk rawat inap.. Lalu setelah dirawat inap, seringkali dokter akan meminta test lab rutin, dan yang di test (sekali lagi) seharusnya hanya yang diperlukan dan harus sepengetahuan pasien.. Namun kenyataannya biasanya gini, ketika pasien mengeluhkan “duh dok kepala saya pusing” langsung dokter minta CT Scan, dan test darah lengkap (lagi), malah kalau agak nyangkut, USG sekalian.. ditambah lagi hasil keluar 4 hari, jadi waktu rawat inap ditambah 4 hari lagi.. tentu saja biaya rawat inap nya membengkak.. padahal bisa saja hanya karena efek samping pemulihan dari pasien (biasanya untuk pasien rawat inap, begitu sudah mau pulih pasien pusing memikirkan biaya yang harus dibayarkan, dan pusing ini terkadang juga menular ke keluarga, hehehe), tinggal nanti abis scan segala macam dokter bilang, “oh gak ada apa2, minum panadol aja” dan pasien pun “lega”..

Soal obat pun sama saja, dokter dalam memberikan obat ataupun infus harus memberitahukan secara jelas kepada pasien itu obat atau infus gunanya apa, dan kontradiksi / efek samping nya apa, kalau perlu bahkan sampai alternatifnya apa, sehingga pasien boleh ikut memutuskan apakah dia mau obat itu atau tidak.. namun kenyataannya tidaklah demikian, biasanya infus dipasang oleh suster tanpa dokter sembari si pasien terus menanyakan ke suster, “Sus itu infus buat apa? efek samping nya apa? boleh gak gak pasang”, dan suster biasanya bilang “harus dipasang kata dokter, biar cepet sembuh”, dan kalau pasien dirasa agak rese, si suster lalu bilang “nanti kalo dokternya datang tanya aja sama dokter” sambil (tentunya) infus dipasangkan… pasien seakan harus menerima infus dan obat-obat yang diberikan dokter, mau-gak-mau, malah kalau perlu, sebelum diberikan obat, test darah lagi, hehehe… untuk mengetahui apakah akan timbul reaksi alergi atau tidak, padahal obat yang diberikan mungkin hanya antibiotik atau paracetamol (Panadol dan lain2) yang biasa diminum pasien, padahal pasien pun berhak untuk meminta obat lain, yang katakanlah Generic… Selain itu, tahukah kamu bahwa ada infus yang menyebabkan pasien merasa lemas, sehingga si pasien tetap merasa perlu dirawat beberapa hari lagi di RS ? padahal kalau tidak pasang infus itu, sebenarnya si pasien itu sudah bisa mulai rawat jalan ?

Maka dari itu, sebaiknya perhatikan lagi cairan atau obat apa yang masuk ke tubuh kamu, lalu ketahui dengan jelas fungsi dari test dan dengarkan diagnosa dokter, kalau perlu googling.. Jadilah kritis..! uang yang kamu bayarkan kepada dokter adalah supaya dokter memberikan penjelasan, diagnosa, dan alternatif..





Tips Mencuci Mobil Berwarna Putih

1 12 2008

Bagi kamu yang sudah memiliki mobil atau ingin memiliki mobil berwarna putih merek dan tipe apa saja..

Berikut tips-tips dan masukkan dari salah satu pabrik mobil, agar warna putih mobil anda tetap putih cemerlang dan awet, dan tidak belang..

Seperti yang kamu ketahui banyak orang yang memiliki mobil warna putih tetapi tidak mengetahui cara mencuci mobil dan merawatnya, sehingga warna putihnya tidak lagi secemerlang ketika masih baru dibeli, namun biasanya agak kekuning-kuningan, dan terkadang belang..

Berikut tips-tips dan masukkan cara mencuci mobil :

1. Jangan mencuci mobil di sembarang tempat.
2. Jangan mencuci mobil dengan memakai sembarang sabun cuci, misal sabun cream.
3. Sebelum mencuci mobil, pastikan mobil anda direndam dengan air hangat dan Bayclin secukupnya.
4. Jangan rendam mobil putih anda bersamaan dengan mobil berwarna lainnya, apalagi mobil hitam.
5. Tunggu rendaman sampai 1 jam, baru anda boleh mencuci.
6. Setelah 1 jam silahkan mencuci dengan bersih.
7. Apabila masih ada noda yang tertinggal, usahakan bersihkan, jangan dibiarkan, karena akan menjadi noda yang permanen.
8. Setelah mencuci,harap keringkan mobil sampai benar-benar kering.
9. Jangan lupa di setrika, agar tidak lecek.





Dilema seorang dokter

25 11 2008

Kekasihku masuk rumah sakit kemarin malam..

Selasa
Semua berawal pada hari selasa malam, dia mengeluh pusing dan panas tubuhnya naik, demam.. tapi dia masih mencoba bertahan, karena memang musim seperti ini banyak sekali yang demam.. lagi ngeTrend..

Rabu
Maka pergilah dia ke kantor seperti biasa pada rabu paginya, namun apa daya rabu itu panasnya naik lagi, dan dia ijin pulang karena sakit itu..

Kamis
dia tidak bisa masuk kantor seperti biasa karena rabu malam dia demam dengan hebatnya.. Hari kamis aku melarangnya untuk ke kantor meskipun dia merasa sudah agak baikan, dia memutuskan untuk ke dokter umum di apotik supaya dapet surat sakti dari dokter untuk libur kerja tanpa dipotong cuti, sebut saja dokter M.. dari pengakuan dia ke dokter, dokter menduga ada sesuatu yang salah, maka diberikanlah resep antibiotik dan minta datang lagi Jumat.. kamis malam itu dia demam tinggi lagi..

Jumat
Siang hari dia sudah merasa baikan lagi, bahkan sore sudah bisa keringatan, biasanya demam kalo keringatan artinya sudah mau sembuh.. makanya hari Jumat ini dia tidak menemui dokter.. Jumat malam, dia demam tinggi lagi..

Sabtu
Paginya dokter minta cek darah, maka aku mengantarkan dia ke lab di Pluit, setelah melihat hasilnya si Dokter bilang Demam Berdarah dengan sedikit Tifus.. diberikannya suplemen dan vitamin untuk DBD, karena memang DBD tidak ada obatnya, hanya kita harus menjaga stamina tubuh saja, untuk tifus diminta menghabiskan antibiotik yang sudah diberikan sebelumnya.. Aku dan dia tentunya tidak langsung percaya, kami pergi ke dokter kedua.. seorang dokter ahli internist yang akan kita sebut dokter T, setelah memeriksa dan melihat hasil lab, dia juga bilang DBD.. dokter yang ini menganjurkan untuk kontrol lagi hari minggu ke RS menemui dia apakah perlu diopname atau tidak..

Minggu
Pagi-pagi aku mengantarkannya ke RS PIK untuk cek darah sekali lagi, dokter T menyarankan untuk tes darah untuk tifus sekalian, hasil untuk DBD keluar 1 jam kemudian, namun yang untuk tifus keluar 1 minggu kedepan.. dari hasilnya, dokter menyimpulkan dengan pasti : DBD.. lalu dia bertanya mau opname atau tidak, katanya juga kalo gak juga gapapa, ya kita memilih rawat jalan aja.. Tapi senin disuruh cek darah lagi.. Malam ini pun dia demam tinggi..

Senin
Malam pada hari minggu kemarin merupakan puncaknya demam, aku sedikit memaksa untuk ke RS pagi ini juga untuk cek dan opname.. dia tidak mau dan memilih untuk menunggu papa nya aja untuk cek darah.. agak siang cek darah dan diantar ke dokter lain lagi sebut saja dokter A, dokter A bilang DBD.. sebelum pulang dari dokter A, dia demam tinggi lagi, aku minta langsung ke RS.. dokter A meminta ke RS PLUIT, aku memaksa ke RS PIK aja.. sampai di RS PIK, kami diantrikan oleh suster selama 1 jam, orang-orang yang mengantri memandang kasian ke dia.. aku pun tidak bisa ngapa2in, sampai akhirnya seorang suster yang diomelin pasien lain sehingga mendahulukan kami.. dia pun segera masuk ke kamar rawat inap, opname.. Dokter datang, sebut saja dokter R.. diagnosanya adalah sudah pasti bukan DBD, melainkan Tifus yang uda agak parah..

——

Tantangan seorang dokter

Tidak bijak rasanya untuk mengatakan 3 dokter sebelumnya bodoh, dan aku pun membela ketiga dokter sebelumnya ketika orang lain mengatakan “Ah, dokter T jelek..”, karena para dokter itu sebenarnya masih menjaga kemungkinan Tifus..

Perlu diketahui dahulu, setiap penyakit punya fase perjalanannya masing-masing, seperti seekor kupu-kupu, yang dari cacing menjadi kepompong, sehebat apapun seseorang, tak mungkin untuk mengatakan bahwa yang muncul nanti kupu-kupu berwarna biru..

Sama halnya dengan penyakit, ketika data medis tidak menunjukan bahwa si pasien menderita Tifus, maka mau dokternya sehebat apapun yang dihadapi data medis itu tidak akan mengatakan bahwa pasiennya terkena tifus.. Ketika wajah si penyakit itu belum menampakan diri sepenuhnya, agaknya disitulah peran naluri dan jam terbang dokter bisa ikut membantu diagnosa dokter..

Dalam prakteknya tentunya seorang dokter tidak boleh menolak pasien yang datang ketika penyakitnya masih baru, misal di depan ditulis “yang penyakitnya belum parah gak boleh datang..”, sementara pasien tentunya gak mau tau, ketika sudah di kamar praktek, menuntut diagnosis dokter pada saat dokter masih belum menemukan dasar medis yang baik untuk kemungkinan penyakit lain, dan ditambah lagi pasien lalu menelan bulat-bulat apa kata dokter tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyakitnya berkembang.. Celakanya lagi, semakin berpendidikan pasien, semakin dini pergi mencari dokter, sehingga semakin kelihatan bodohlah dokter di hadapan pasiennya..





Apa arti aku ada .. ?

21 11 2008

Aku benci ketika egoku terasa seperti ini,
Rasa yang tertinggal dalam hati rindu akan masa lalu..

Aku senang dengan masa kini dan berharap pada masa depan,
Namun masa lalu indah meninggalkan rindu tak dapat kupungkiri..

Aku rindu rasa itu, sesak dihati kuingat manja,
Sesuatu hilang dan sesuatu datang.. Aku sungguh tak mengerti apa arti aku ada..
Harus berjuang demi masa depan berlangkahkan bambu..

Apa arti berjuang,
Apa arti masa depan,
Apa arti harapan, pantaskah aku berharap ?
Ketika ambisi dibungkam, dan mimpi diburamkan..

Ada saatnya aku tak mengerti apa arti aku ada..
Apa arti aku ada … ?