Dilema seorang dokter

25 11 2008

Kekasihku masuk rumah sakit kemarin malam..

Selasa
Semua berawal pada hari selasa malam, dia mengeluh pusing dan panas tubuhnya naik, demam.. tapi dia masih mencoba bertahan, karena memang musim seperti ini banyak sekali yang demam.. lagi ngeTrend..

Rabu
Maka pergilah dia ke kantor seperti biasa pada rabu paginya, namun apa daya rabu itu panasnya naik lagi, dan dia ijin pulang karena sakit itu..

Kamis
dia tidak bisa masuk kantor seperti biasa karena rabu malam dia demam dengan hebatnya.. Hari kamis aku melarangnya untuk ke kantor meskipun dia merasa sudah agak baikan, dia memutuskan untuk ke dokter umum di apotik supaya dapet surat sakti dari dokter untuk libur kerja tanpa dipotong cuti, sebut saja dokter M.. dari pengakuan dia ke dokter, dokter menduga ada sesuatu yang salah, maka diberikanlah resep antibiotik dan minta datang lagi Jumat.. kamis malam itu dia demam tinggi lagi..

Jumat
Siang hari dia sudah merasa baikan lagi, bahkan sore sudah bisa keringatan, biasanya demam kalo keringatan artinya sudah mau sembuh.. makanya hari Jumat ini dia tidak menemui dokter.. Jumat malam, dia demam tinggi lagi..

Sabtu
Paginya dokter minta cek darah, maka aku mengantarkan dia ke lab di Pluit, setelah melihat hasilnya si Dokter bilang Demam Berdarah dengan sedikit Tifus.. diberikannya suplemen dan vitamin untuk DBD, karena memang DBD tidak ada obatnya, hanya kita harus menjaga stamina tubuh saja, untuk tifus diminta menghabiskan antibiotik yang sudah diberikan sebelumnya.. Aku dan dia tentunya tidak langsung percaya, kami pergi ke dokter kedua.. seorang dokter ahli internist yang akan kita sebut dokter T, setelah memeriksa dan melihat hasil lab, dia juga bilang DBD.. dokter yang ini menganjurkan untuk kontrol lagi hari minggu ke RS menemui dia apakah perlu diopname atau tidak..

Minggu
Pagi-pagi aku mengantarkannya ke RS PIK untuk cek darah sekali lagi, dokter T menyarankan untuk tes darah untuk tifus sekalian, hasil untuk DBD keluar 1 jam kemudian, namun yang untuk tifus keluar 1 minggu kedepan.. dari hasilnya, dokter menyimpulkan dengan pasti : DBD.. lalu dia bertanya mau opname atau tidak, katanya juga kalo gak juga gapapa, ya kita memilih rawat jalan aja.. Tapi senin disuruh cek darah lagi.. Malam ini pun dia demam tinggi..

Senin
Malam pada hari minggu kemarin merupakan puncaknya demam, aku sedikit memaksa untuk ke RS pagi ini juga untuk cek dan opname.. dia tidak mau dan memilih untuk menunggu papa nya aja untuk cek darah.. agak siang cek darah dan diantar ke dokter lain lagi sebut saja dokter A, dokter A bilang DBD.. sebelum pulang dari dokter A, dia demam tinggi lagi, aku minta langsung ke RS.. dokter A meminta ke RS PLUIT, aku memaksa ke RS PIK aja.. sampai di RS PIK, kami diantrikan oleh suster selama 1 jam, orang-orang yang mengantri memandang kasian ke dia.. aku pun tidak bisa ngapa2in, sampai akhirnya seorang suster yang diomelin pasien lain sehingga mendahulukan kami.. dia pun segera masuk ke kamar rawat inap, opname.. Dokter datang, sebut saja dokter R.. diagnosanya adalah sudah pasti bukan DBD, melainkan Tifus yang uda agak parah..

——

Tantangan seorang dokter

Tidak bijak rasanya untuk mengatakan 3 dokter sebelumnya bodoh, dan aku pun membela ketiga dokter sebelumnya ketika orang lain mengatakan “Ah, dokter T jelek..”, karena para dokter itu sebenarnya masih menjaga kemungkinan Tifus..

Perlu diketahui dahulu, setiap penyakit punya fase perjalanannya masing-masing, seperti seekor kupu-kupu, yang dari cacing menjadi kepompong, sehebat apapun seseorang, tak mungkin untuk mengatakan bahwa yang muncul nanti kupu-kupu berwarna biru..

Sama halnya dengan penyakit, ketika data medis tidak menunjukan bahwa si pasien menderita Tifus, maka mau dokternya sehebat apapun yang dihadapi data medis itu tidak akan mengatakan bahwa pasiennya terkena tifus.. Ketika wajah si penyakit itu belum menampakan diri sepenuhnya, agaknya disitulah peran naluri dan jam terbang dokter bisa ikut membantu diagnosa dokter..

Dalam prakteknya tentunya seorang dokter tidak boleh menolak pasien yang datang ketika penyakitnya masih baru, misal di depan ditulis “yang penyakitnya belum parah gak boleh datang..”, sementara pasien tentunya gak mau tau, ketika sudah di kamar praktek, menuntut diagnosis dokter pada saat dokter masih belum menemukan dasar medis yang baik untuk kemungkinan penyakit lain, dan ditambah lagi pasien lalu menelan bulat-bulat apa kata dokter tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyakitnya berkembang.. Celakanya lagi, semakin berpendidikan pasien, semakin dini pergi mencari dokter, sehingga semakin kelihatan bodohlah dokter di hadapan pasiennya..





Apa arti aku ada .. ?

21 11 2008

Aku benci ketika egoku terasa seperti ini,
Rasa yang tertinggal dalam hati rindu akan masa lalu..

Aku senang dengan masa kini dan berharap pada masa depan,
Namun masa lalu indah meninggalkan rindu tak dapat kupungkiri..

Aku rindu rasa itu, sesak dihati kuingat manja,
Sesuatu hilang dan sesuatu datang.. Aku sungguh tak mengerti apa arti aku ada..
Harus berjuang demi masa depan berlangkahkan bambu..

Apa arti berjuang,
Apa arti masa depan,
Apa arti harapan, pantaskah aku berharap ?
Ketika ambisi dibungkam, dan mimpi diburamkan..

Ada saatnya aku tak mengerti apa arti aku ada..
Apa arti aku ada … ?





Free Magazine

19 11 2008

Bisa kita lihat banyak free magazine yang akhirnya berguguran, berbagai macam penyebabnya, bisa karena mereka terlalu berkonsentrasi pada pemasukan (iklan) seperti halnya bisnis konvensional, dan mereka tidak fokus pada konten serta distribusi majalahnya itu sendiri, sampai-sampai Free Magz itu menjadi seperti Mini Yellow Pages.. Banyak dari mereka tidak memiliki profil pembaca yang jelas karena terlalu fokus di penjualan iklannya.. Banyak juga kita temukan free magz yang isinya copy paste dari internet..

Untuk serius di bisnis Free Magazine ini tidaklah mudah. Mereka harus benar-benar memiliki theme yang kuat dan nama yang benar-benar melukiskan isi dari majalah itu, selain itu juga harus memiliki team pencari konten yang baik, bukan asal copy dan paste dari internet.

Hal ini bisa kita lihat dari Free Magz yang bisa berkembang, kebanyakan dari mereka mengusung tema komunitas, kita ambil contoh media kawasan seperti Pluit, Kelapa Gading, Puri, dan lain-lain.. konten mereka cenderung diminati pembaca karena dekat dan berguna untuk mereka, distribusi pun bisa dengan door-to-door atau diletakan di pusat kegiatan kawasan seperti mall atau pasar karena cangkupan wilayah yang kecil, selain itu mereka juga sudah memiliki basis konsumen yang jelas, misal “penghuni kawasan Pluit”.. Namun kekurangannya media kawasan ini sulit mendapatkan iklan-iklan besar, karena pengiklan justru biasanya datang dari komunitas di kawasan itu sendiri.. Meskipun begitu tetap saja pesaing bisa masuk dengan mudah dan menggoyang pemain tua..

Free Magazine dapat bertahan apabila dia bisa membangun komunitas, hadir secara tegas, serta menyentuhnya secara emosional, dan bukan hanya mengandalkan komunitas yang sudah ada.. dengan begitu bukan hanya Free Magz yang mencari pengiklan, namun pengiklan juga akan mencari mereka..





The Seven Habits of Highly Effective People and Me

19 11 2008

The Seven Habits of Highly Effective People
(Tujuh kebiasaan orang-orang jangkung yang efektif)

Habit #1 : Be Proactive (Jadilah seorang aktif yang professional)
Seperti halnya ketika seorang teman pernah berkata kepadaku bahwa dia bekerja sebagai progamer, aku lantas berpikir bahwa sekarang dunia sudah benar-benar berubah, bahkan seorang pemain game pun bisa dijadikan profesi, benar-benar hobby yang menghasilkan uang.. Sekarang kalau kamu merasa dirimu aktif, coba aja cari perusahaan yang mencari orang-orang yang aktif.. Jadilah seorang profesional di bidang aktif-aktifan..

Habit #2 : Begin with an end in mind (Mulailah dengan huruf N)
Nah, dalam seven Habit itu juga menyarankan untuk membiasakan dirimu memulai kalimat dengan huruf N.. Ngg …….. … . …. Nggitu deh..

Habit #3 : Put First Thing First (Selalu Letakan segala sesuatu duluan, dan juga berpikir kudu duluan)
Jadi waktu kamu melakukan segala sesuatu, jangan keduluan sama orang lain, misal ketika kamu mau ke mall, pastikan kalau kamu orang pertama yang datang di mall itu, kalo gak jadi yang pertama ya jangan masuk ke mall itu.. kemudian juga ketika dalam rapat, pastikan kamu orang pertama yang mikir, kalo gak jadi yang pertama juga ya jangan mikir…

Habit #4 : Think Win/Win (Berpikirlah menang atau menang)
Ketika dihadapkan pada suatu masalah, berpikirlah selalu untuk menang..! dalam kebiasaan nomor 4 ini tidak ada opsi lain, tidak boleh kalah..! Harus menang..! Dengan cara apapun..!

Habit #5 : Seek First to Understand, Then to be Understood (Carilah terlebih dahulu yang sudah mengerti, baru cari yang harus dibuat mengerti)
Dalam pergaulan dan hubungan kita dengan masyarakat, terkadang ada beberapa orang yang dapat dengan mudah mengerti keinginan kita, dan ada juga yang perlu kita buat mengerti terlebih dahulu.. Caranya membuat orang mengerti juga ada banyak macam, misalnya dengan membelinya langsung dari orangnya..

Habit #6 : Synergize (Bersinergi)
Manusia selalu menyukai hal-hal yang berenergy, oleh karena itu kamu harus selalu berisi energy, jangan ngondoy..!

Habit #7 : Sharpen The Saw (Tajamkan Gergajimu)
Ingat selalu untuk menajamkan gergajimu, supaya ketika keenam habit sebelumnya sudah kamu terapkan namun masih merasa kurang efektif, kamu bisa memakainya untuk memotong orang-orang yang kamu anggap menghambat jalanmu untuk menjadi efektif… Ingatlah bahwa ini adalah cara terakhir..! Hanya boleh dilakukan apabila keenam kebiasaan sebelumnya tidak membuahkan hasil… Namun untuk mengasah gergajinya harus kamu lakukan sering-sering… Oleh karena itulah maka kebiasaan ini diletakan sebagai kebiasaan nomor 7…





Tips dalam menawarkan kartu kredit

9 11 2008

Pernah sebel sama sales kartu kredit yang kurang smart dalam menawarkan dagangannya ?

“Mau Boneka ? Gratis, tinggal isi data aja..”
“Gratis iuran tahunannya..”
“Ini bunganya 0%..!” (“What ? bunga apa nih ? Pinjaman ?” , “bunga cicilan di toko2 tertentu, Pak” , “Oohh… jadi dua kali lima puluh yach ?” , “Apa tuh ?” , “Cepek Degh..”)
“Daftar ini free menghabiskan 1 malam bersama saya” (yang nawarin ginian blom ada sich..)

Apa jawaban kamu biasanya ?

Hari ini aku lebih sebel lagi, karena ketika menunggu bill di The Buffet Citraland, aku didatangi sales kartu kredit yang kurang smart dalam menawarkan dagangannya.. kenapa aku katakan kurang smart ? karena ketika membuka pembicaraan langsung membuat orang sebel, nyerocos gak berhenti-berhenti selama 1 atau 2 menit.. berhubung aku agak sopan, ya terpaksa nunggu dia puas nyerocos baru bilang “Sorry bang, uda punya..” dan lebih stupid lagi, dia malah nawarin yayangku, dan memakan waktu yang lebih lama, mungkin hampir sekitar 5 menit sampai akhirnya dia puas nyerocos dan memberikan kami kesempatan untuk berbicara, pembicaraan kita langsung selesai dengan “Sorry bang, dia juga uda punya..”

Memang sih sebagian besar dari sales kartu kredit langsung nyerocos gak berhenti ketika nawarin dagangannya, kalau dilihat dari sisi lain, setidaknya ada 1 positif, setidaknya customer tau kartu yang dia pegang itu bebas iuran tahunan, tapi sisi negatifnya jadi banyak, misalnya customer awalnya akan ngedumel “tu sales dari bank yang ono rese banget… ntar gw mau tulis di blog” , setelah itu dibaca oleh kamu-kamu semua…

Berawal dari kekesalan itu aku ingin share ke rekan-rekan yang kebetulan berprofesi sebagai sales kartu kredit.

Berikut Tips dalam menawarkan kartu kredit in a smart way
Memanfaatkan senjata 1 : “Diskon” :

Awalnya mari kita bertanya, siapa yang belum punya kartu kredit ? atau kalau kamu sudah punya, coba berpikir balik ke alasan kenapa mau bikin kartu kredit ? Pastinya bukan karena iming-iming boneka atau iuran tahunan gratis kan ? Kalau aku sih berawal dari alasan-alasan semacam :
“Mau nonton buy one and get another one for free”
“Diskon di restoran favorite gw 50% !!”
“Diskon makannya banyak dimana-mana dan gede-gede”
“Kartu kredit = kartu diskon”

di simpulkan : Benefit dalam penggunaannya,

Oleh karena itu sebenarnya kalimat-kalimat pembuka berikut tidak lagi bisa disebut smart way :
- Boneka gratis *
- Free Annual Fee *
- Free one night stand with me * (hohoho)
- xxnamakartuxx nya, Pak…
* Term and condition apply

Kedua, pilihlah rekanan bank kamu yang memberikan diskon cukup menggiurkan dan juga masih sedikit yang tau, sebagai contoh si The Buffet dan kartu diskon 50% ABN Amro, cukup banyak yang makan The Buffet dan mungkin tertarik untuk makan di The Buffet, tidak sedikit juga yang suka ngundang pesta di The Buffet, dan kamu sebagai sales tidak bisa bilang “The Buffet gak enak, mana ada yang mau makan disono”, buktinya dia bisa mendapat lebih banyak pelanggan daripada kamu… lagian yang namanya makanan itu tergantung selera orang, karena yang seleranya buruk juga banyak.. always remember ”With a good sale’s technique, you can sell even a rubbish”

Setelah kamu menentukannya, berdirilah di depan tempat itu dan mulailah menawarkan mereka yang mondar-mandir di depan The Buffet dengan bilang salah satu dari ini :
- Pak, mau pesta di The Buffet diskon 50% ? *
- Bu, mau pesta di The Buffet diskon 50% ? *
- Dek, mau pesta di The Buffet diskon 50% ? *
(hehehe)
- Pak, tau gak pake ABN Amro makan berempat bisa dapet potongan sampai Rp. 138,000.- ?
- Bu, mau makan berdua tapi cukup bayar seharga satu orang gak pake ABN Amro ?

Setelah kamu puas diluar, strategi di dalam berbeda lagi, perhatikan mereka yang membayar tidak menggunakan kartu kredit, lalu hampiri dan mulai dengan “anda suka makanan di The Buffet ?” tunggu feedback, lalu tawarkan diskon 50% atau gaya lain seperti makan berdua bayar 1 orang..

Mereka yang sudah memiliki kartu kredit lebih dari satu akan sulit kamu tawarkan, tapi tidak ada salahnya, hanya saja jangan dipaksa, ketika dia tolak ya berbesarhatilah dan lepaskan dia, mungkin dia bukan jodohmu..

Memanfaatkan senjata lainnya :

Aku tidak begitu paham tentang mekanisme sales kartu yang menawarkan boneka ketika menawarkan kartu kredit, tentang darimana uang itu mereka dapatkan, rumor yang beredar mengatakan itu uang komisi mereka sendiri yang bahkan belum mereka dapatkan, tapi daripada menawarkan boneka yang harganya Rp. 10,000.- , lebih baik begini :

Pergilah ke fast food terdekat atau family entertainment center, mari kita ambil contoh McDonalds atau Timezone.. belilah kartu vouchernya yang senilai Rp. 10,000.- atau bahkan kamu bisa membeli produknya yang seharga Rp. 5,000.- , dan mulailah menawarkan kartu kamu ke mereka yang datang dengan iming-iming voucher langsung… jujur saja, aku tidak terlalu suka cara ini, mengingat orang dapat dengan mudah mengisi form dan tidak mengaktifkan kartunya… oleh karena itu ingatlah selalu, kamu harus menjelaskan benefit penggunaan kartu kamu, dengan mengetahui hal itu, maka dia akan mengaktifkan kartunya dengan sendirinya… kamu boleh juga menanyakan program diskon apa yang ditawarkan kartu kamu yang paling dia sukai, agar dia ingat kalau kartu kamu bisa digunakan untuk diskon itu…

Penutup

Silahkan copy dan paste serta sebarkan pemikiran aku ini dan jadikan rekan-rekan sales kita lebih smart dan tidak dicemooh ketika menawarkan kartu kreditnya… btw, sales baca email gak yach ?





Me and My Café’s Concept

1 11 2008

Belakangan aku memantabkan hati untuk memulai bisnis pertamaku – sebuah Café – serta aku berangan-angan untuk melahirkan sebuah komunitas kecil berdasarkan kafe itu.. Masalahnya cuman kekurangan modal.. Kurang modal moralal (kalo materi jadi material, moral jadi moralal lah, hehe, kalo gak jadi apa donk ?), karena sampai hari ini aku masih belum dapet doa restu dari ortu agar anak tercintanya ini bisa jadi bos, mereka masih nyuruh anaknya (dan bangga, perhaps ?) jadi kacung dulu..

Disini aku tidak akan menceritakan detail konsep kafe yang aku pikirkan.. hanya landasannya aja, hehe..

Berawal dari rasa penasaran ketika masih ABG dulu (Sekarang sih uda OBG – Om2 Baru Gede), kenapa sih orang rela bayar mahal hanya untuk makan dan minum di kafe di mall-mall ? Masih inget jawaban klasik – beli suasana, tapi coba perhatikan saat ini, hampir sebagian besar kafe sekarang malah jualan “Free Wifi” ketimbang jualan suasana, bayangkan saja ada sebuah kafe dibawah sebuah tangga yang padahal menurut (so called) kepercayaan orang-orang dulu tuh berjalan dibawah tangga itu bawa sial, ditambah lagi kafe itu hadir ditengah-tengah keramaian (maksudnya benar-benar ditengah orang rame-rame), dan ditambah lagi kafenya tuh rame banget kayak pasar, kafe dimana kalo kita datang dan duduk disitu (kalo bisa dapet tempat duduk), jangan harap bisa ngobrol dengan nyaman.. Berisik..

Fenomena ini didukung dengan beberapa temen gw yang belakangan lebih sering ngomong gini : “oi Ky, gw tunggu u di *bintang rusa jantan* aja yach, gw mau buka Friendster” dalem hati sempat bertanya “Emangnya si *bintang rusa jantan* beralih bisnis ke bisnis warnet ?” … Ditambah lagi aku pernah dengar orang berkata ketika di pameran laptop, ketika mempertimbangkan mau beli netbook karena lebih ringan, disebabkan karena dia males bawa berat-berat di Mall, lantas aku bertanya dalam hati, “kenapa harus di Mall, Bung ??” … Netbook saat ini sedikit banyak diasosiasikan dengan internetan gratis di kafe.. Aku lalu berspekulasi faktor tunggal boomingnya Netbook di Indonesia adalah dikarenakan kafe-kafe yang menjual “Free Wifi” itu..

Tapi dibalik itu, masih ada beberapa kafe-kafe yang masih menjual suasana, hanya saja mereka pun mulai bereaksi dengan ikutan memberikan “Free Wifi” agar pelanggan tidak lari, hanya bedanya pada intinya mereka masih menjual suasana, wifi benar-benar hanya bonus kepada mereka yang benar-benar menikmati suasana kafe itu.. Pernah tau kafe-kafe seperti ini ? bahkan ada beberapa yang tidak menyediakan wifi secara free, kalau mau pakai ya bayar.. menurutku itu baru kafe namanya, tempat dimana kita membeli waktu yang indah, tempat dimana perbincangan dan diskusi bisa keluar dengan lancar dan sehat.. hanya saja kafe seperti ini biasanya hanya untuk golongan tertentu, golongan yang rela membayar teh (yang kalau di warung dikasi gratis) seharga Rp. 90.000,- bahkan lebih..

Kepikiran gak kalau kafe seperti itu banyak sekali peminatnya di kalangan orang-orang yang sulit mengerti bedanya teh gratisan dengan teh yang seharga lebih dari Rp. 90.000,- ? Aku berbicara tentang sebuah kafe yang lebih sederhana, dengan pelayan yang hangat kepada pengunjung, dan dengan harga makanan dan minuman yang lebih masuk akal, dan tentunya suasana haruslah nyaman.. Aku berbicara tentang sebuah tempat yang ingin kamu datangi ketika tidak tau mau kemana.. Sebuah tempat dimana pembicaraan lebih bermakna dan ide lebih bersinar.. Sebuah tempat yang bahkan menyenangkan hanya dengan duduk berdua dengan teman tanpa perlu berbicara.. Sebuah tempat yang membuat pelanggannya bangga menjadi bagian dari tempat itu.. Seperti mimpi memang, tapi kafe seperti itulah yang ada di anganku, ini mimpi yang akan kukejar, tinggal tunggu tanggal mainnya aja ketika Ortu sudah rela melepas anaknya dari kacung menjadi bos.. Details ? tentunya sudah ada donk, hehe.. Free Wifi ? ada juga lah, hahaha…





* Milestone – New Theme – Yay :D

1 11 2008

Yay, this is a milestone post, because I changed my theme for this blog today..

I hope you like it..!

Yes2








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.