Kekasihku masuk rumah sakit kemarin malam..
Selasa
Semua berawal pada hari selasa malam, dia mengeluh pusing dan panas tubuhnya naik, demam.. tapi dia masih mencoba bertahan, karena memang musim seperti ini banyak sekali yang demam.. lagi ngeTrend..
Rabu
Maka pergilah dia ke kantor seperti biasa pada rabu paginya, namun apa daya rabu itu panasnya naik lagi, dan dia ijin pulang karena sakit itu..
Kamis
dia tidak bisa masuk kantor seperti biasa karena rabu malam dia demam dengan hebatnya.. Hari kamis aku melarangnya untuk ke kantor meskipun dia merasa sudah agak baikan, dia memutuskan untuk ke dokter umum di apotik supaya dapet surat sakti dari dokter untuk libur kerja tanpa dipotong cuti, sebut saja dokter M.. dari pengakuan dia ke dokter, dokter menduga ada sesuatu yang salah, maka diberikanlah resep antibiotik dan minta datang lagi Jumat.. kamis malam itu dia demam tinggi lagi..
Jumat
Siang hari dia sudah merasa baikan lagi, bahkan sore sudah bisa keringatan, biasanya demam kalo keringatan artinya sudah mau sembuh.. makanya hari Jumat ini dia tidak menemui dokter.. Jumat malam, dia demam tinggi lagi..
Sabtu
Paginya dokter minta cek darah, maka aku mengantarkan dia ke lab di Pluit, setelah melihat hasilnya si Dokter bilang Demam Berdarah dengan sedikit Tifus.. diberikannya suplemen dan vitamin untuk DBD, karena memang DBD tidak ada obatnya, hanya kita harus menjaga stamina tubuh saja, untuk tifus diminta menghabiskan antibiotik yang sudah diberikan sebelumnya.. Aku dan dia tentunya tidak langsung percaya, kami pergi ke dokter kedua.. seorang dokter ahli internist yang akan kita sebut dokter T, setelah memeriksa dan melihat hasil lab, dia juga bilang DBD.. dokter yang ini menganjurkan untuk kontrol lagi hari minggu ke RS menemui dia apakah perlu diopname atau tidak..
Minggu
Pagi-pagi aku mengantarkannya ke RS PIK untuk cek darah sekali lagi, dokter T menyarankan untuk tes darah untuk tifus sekalian, hasil untuk DBD keluar 1 jam kemudian, namun yang untuk tifus keluar 1 minggu kedepan.. dari hasilnya, dokter menyimpulkan dengan pasti : DBD.. lalu dia bertanya mau opname atau tidak, katanya juga kalo gak juga gapapa, ya kita memilih rawat jalan aja.. Tapi senin disuruh cek darah lagi.. Malam ini pun dia demam tinggi..
Senin
Malam pada hari minggu kemarin merupakan puncaknya demam, aku sedikit memaksa untuk ke RS pagi ini juga untuk cek dan opname.. dia tidak mau dan memilih untuk menunggu papa nya aja untuk cek darah.. agak siang cek darah dan diantar ke dokter lain lagi sebut saja dokter A, dokter A bilang DBD.. sebelum pulang dari dokter A, dia demam tinggi lagi, aku minta langsung ke RS.. dokter A meminta ke RS PLUIT, aku memaksa ke RS PIK aja.. sampai di RS PIK, kami diantrikan oleh suster selama 1 jam, orang-orang yang mengantri memandang kasian ke dia.. aku pun tidak bisa ngapa2in, sampai akhirnya seorang suster yang diomelin pasien lain sehingga mendahulukan kami.. dia pun segera masuk ke kamar rawat inap, opname.. Dokter datang, sebut saja dokter R.. diagnosanya adalah sudah pasti bukan DBD, melainkan Tifus yang uda agak parah..
——
Tantangan seorang dokter
Tidak bijak rasanya untuk mengatakan 3 dokter sebelumnya bodoh, dan aku pun membela ketiga dokter sebelumnya ketika orang lain mengatakan “Ah, dokter T jelek..”, karena para dokter itu sebenarnya masih menjaga kemungkinan Tifus..
Perlu diketahui dahulu, setiap penyakit punya fase perjalanannya masing-masing, seperti seekor kupu-kupu, yang dari cacing menjadi kepompong, sehebat apapun seseorang, tak mungkin untuk mengatakan bahwa yang muncul nanti kupu-kupu berwarna biru..
Sama halnya dengan penyakit, ketika data medis tidak menunjukan bahwa si pasien menderita Tifus, maka mau dokternya sehebat apapun yang dihadapi data medis itu tidak akan mengatakan bahwa pasiennya terkena tifus.. Ketika wajah si penyakit itu belum menampakan diri sepenuhnya, agaknya disitulah peran naluri dan jam terbang dokter bisa ikut membantu diagnosa dokter..
Dalam prakteknya tentunya seorang dokter tidak boleh menolak pasien yang datang ketika penyakitnya masih baru, misal di depan ditulis “yang penyakitnya belum parah gak boleh datang..”, sementara pasien tentunya gak mau tau, ketika sudah di kamar praktek, menuntut diagnosis dokter pada saat dokter masih belum menemukan dasar medis yang baik untuk kemungkinan penyakit lain, dan ditambah lagi pasien lalu menelan bulat-bulat apa kata dokter tanpa mempertimbangkan kemungkinan penyakitnya berkembang.. Celakanya lagi, semakin berpendidikan pasien, semakin dini pergi mencari dokter, sehingga semakin kelihatan bodohlah dokter di hadapan pasiennya..

Recent Comments