Aku harus mengawali post ini dari sebuah cerita, tentang professional kantoran yang telah berkata “cukup” dan keluar dari perusahaan tempat dia bekerja, yang kemudian memulai usahanya sendiri berdasarkan kemampuan professionalitas yang dia miliki.. well, here we go;
Ada seorang chef yang telah bekerja selama 9 tahun di sebuah restoran hotel berbintang lima terkenal di Jakarta.. karena satu dua hal, dia memiliki perbedaan pendapat dengan management hotel, dia memutuskan untuk keluar dari tempatnya selama ini mencari sesuap berlian serta mencoba memulai usahanya sendiri dengan bekal keahlian dan idealismenya..
Dia menyewa sebuah ruko di daerah ramai, dan mendesainnya secara sederhana.. Setelah menyewa beberapa orang pekerja, dia memulai bisnis rumah makan kecil-kecilannya..
Lantas apakah kisahnya berakhir bahagia ? lima bulan berlalu, meskipun daerahnya ramai, restorannya sepi.. lima bulan dia tidak melihat adanya harapan.. ditambah lagi kebiasaannya bekerja di hotel bintang lima, membuatnya secara tidak sadar menggunakan konsep bintang lima yang dia sederhanakan sendiri sesuai modalnya, tetapi akhirnya malah mengakibatkan membengkaknya biaya operasional.. dia pun harus mencari jalan keluar untuk bertahan..
Seiring waktu, dia mulai mengerti apa yang dia perlukan selain kemampuannya dalam hal memasak, selain keyakinannya atas kualitas dan rasa produk yang dia ciptakan, dia mulai mengerti hal lain dalam prinsip marketing yang diperlukan oleh bisnisnya, promosi..! dia tau dan sadar kalau hanya dia yang tau bahwa masakannya enak adalah sia-sia, dia harus memberitahu orang lain bahwa masakannya enak.. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung mempromosikan rumah makannya melalui forum yang biasa dia ikuti di internet.. hasilnya ? Restoran kecilnya benar-benar kebanjiran pengunjung..!! Tetapi masalah bukannya selesai, malah bertambah banyak, namun masalah kali ini adalah masalah yang baik..
Masalah itu dimulai dari kurangnya meja dan peralatan makan, seringnya kehabisan stok makanan, banyaknya pengunjung yang tidak sabar, sampai waktu memasak yang semakin lama.. Agar dia tidak kehilangan pengunjungnya, dia pun royal memberikan free service, “demi kepuasan pelanggan” maksudnya..
Satu hari telah dia lalui dan dia berhasil bertahan dari banjir pengunjung yang gila-gilaan, ia tutup hari itu dengan bersenang-senang bersama karyawannya karena lima bulan sudah mereka duduk lesu sambil terkadang ke dapur untuk memasak..
****
Cerita ini belum selesai, karena baru saja tadi aku melihat sang chef dan karyawan-karyawannya sedang duduk-duduk saling tersenyum satu sama lain..
Kejadian hari ini membuat aku lantas berpikir akankan aku juga bisa seperti itu ? sang chef telah keluar dari pekerjaan tetapnya untuk mengadu nasibnya setelah bertahun-tahun memasak dalam gemerlapnya hotel bintang lima, memasak dengan segala fasilitas restoran berkelas, dibantu staff yang memiliki tugas dan keahliannya masing-masing yang mereka dapatkan dari sekolah, memasak dengan tidak perlu memikirkan hal lain, cukup memasak saja..
Professional telah bekerja dengan dibantu professional-professional lain sehingga tidak memperhatikan hal-hal penting lain.. misalnya auditor yang tidak mengetahui konsep marketing, marketer yang tidak mengetahui konsep logistik, atau pun akuntan yang taunya hanya pembukuan.. professional didesain untuk tidak memikirkan hal lain selain bidangnya sendiri..
Temanku, renungkan pertanyaan ini :
“Apakah aku memiliki sesuatu yang bisa membuatku bertahan hidup, apabila aku kehilangan periuk nasiku saat ini..?”
Recent Comments